Senin, 12 November 2012

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

Pertumbuhan dan pekembangan merupakan proses yang saling berhubungan. Kedua proses tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor esternal (faktor lingkungan).

-Faktor internal
faktor internal meliputi faktor genetis (hereditas) dan proses fisiologis individual yang bersifat spesifik. Faktor genetis mempengaruhi tumbuhan pada saat diakhirinya masa dormansi biji untuk berkecambah. Proses induksi (stimulus) oleh air pada saat berakhirnya dormansi biji ditentukan oleh kemampuan tumbuhan dalam mensintesis enzim yang akan berperan selama pertumbuhan dan perkembangan. Proses fisiologis pada tumbuhan juga ditentukan oleh aktivitas hormon yang ada pada tumbuhan tersebut.

-Faktor genetis
proses pertumbuhan dan perkembangan dimulai dari proses perkecambahan. Proses ini diawali dengan penyerapan air secara imbibisi. Masuknya air selain berfungsi melarutkan cadangan makanan yang terdapat di bagian keping lembaga, juga menginduksi aktivitas enzim hidrolitik dikendalikan oleh gen-gen yang bertanggung jawab untuk hal tersebut.
Berakhirnya masa dormansi dan dimulainya proses perkeambahan ditentukan oleh kemampuan tumbuhan untuk melakukan metabolisme pada tumbuhan dipengaruhi ole enzim-enzim metabolik. Enzim metabolik merupaka protein yang berfungsi untuk mengatur laju metabolisme. Pertumbuhan dan perkembangan akan optimal apabila laju metabolisme juga optimal.  Proses morfogenesis dan perkembangan ditentukan oleh faktor genetis tumbuhan.

-faktor fisiologis
dalam faktor fisiologis, proses yang terjadi merupakan proses fungsional pada tingkat seluler. Pertumbuhan dan perkembangan akan melibatkan berbagai macam hormon dan vitamin. Hormon dan vitamin mempunyai fungsi spesifik pada setiap tingkat pertumbuhan dan perkembangan. Hormon-hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah sebagai berikut.
Auksin berperan dalam pertumbuhan untuk memacu proses pemanjangan sel. Hormon auksin dihasilkan pada bagian koleoptil (titik tumbuh) pucuk tumbuhan. Jika terkena cahaya matahari, auksin menjadi tidak aktif. Kondisi fisiologis ini mengakibatkan bagian yang tidak terkena cahaya matahari akan tumbuh lebih cepat dari bagian yang terkena cahaya matahari. Akibatnya, tumbuhan akan membengkok ke arah cahaya matahari. Auksin yang diedarkan keseluruh bagian tumbuhan mempengaruhi pemanjangan, pembelahan, dan diferensiasi sel tumbuhan. Auksin, yang dihasilkan pada tunas apikal (ujung) batang dapat menghambat tumbuhnya tunas lateral (samping) atau tunas ketiak. Bila tunas apikal batang dipotong maka tunas lateral akan menumbuhkan daun-daun.
Fungsi lain dari auksin adalah merangsang kambium untuk membentuk xilem dan floem, memelihara elestisitas dinding sel, dan membentuk dinding sel primer (dinding sel yang pertama kali dibentuk pada sel tumbuhan), menghambat rontoknya buah dan gugurnya daun serta mampu membantu  proses partenokarpi. Partenokarpi adalah proses pembuahan tanpa penyerbukan.
Pemberian hormon auksin pada tumbuhan akan menyebabkan terjadinya pembentukan buah tanpa biji, akar lateral (samping), dan serabut akar. Pembentukan akar lateral dan serabut akar menyebabkan proses penyerapan air dan mineral dapat berjalan optimum. Giberelin. Giberelin merupakan hormon yang berfungsi sinergis (bekerja sama) dengan hormon auksin. Giberelin berpengaruh terhadap perkembangan dan perkecambahan embrio. Giberelin akan merangsang pembentukan enzim amilase. Enzim tersebut berperan memeah senyawa amilum yang terdapat pada endosperem (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa merupakan sumber energi pertumbuhan. Apabila giberelin diberikan pada tumbuhan kerdil, maka tumbuhan akan tumbuh normal kembali. Giberelin juga berfungsi dalam proses pembentukan biji, yaitu merangsang pembentukan serbuk sari (polen), memperbesar ukuran buah, merangsang pembentukan bunga dan mengakhiri masa dormansi pada biji. Giberelin dengan konsentrasi rendah tidak merangsang pembentukan akar, tetapi pada konsentrasi tinggi akan merangsang pembentukan akar.
Giberelin pertama kali diisolasi dari jamur giberrella fujikuroi. Hormon giberellin dapat dibagi menjadi berbagai jenis, yaitu giberelin A, giberelin A2, dan giberelin A3 yang memiliki struktur molekul dan fungsi yang sangat spesifik.
Etilen. Etilen berperan dalam proses pematangan buah dan kerontokan daun. Apabila konsentrasi etilen sangat tinggi dibandingkan hormon auksin dan giberelin, maka proses pemebentukan batang, akar dan bunga dihambat oleh hormon ini. Namun, bila bersama-sama dengan hormon auksin, etilen merangsang proses pembentukan bunga. Senyawa etilen pada tumbuhan ditemukan dalam fase gas.
Etilen sering dimanfaatkan oleh para distibutor atau importir buah. Buah dikemas dalam keadaan belum masak pada saat diangkut menuju ke pedagang buah(buah yang sudah masak tidak diangkut ke pedagang buah karena akan cepat rusak pada proses pengangkutan). Setelah sampai di pedagang buah, buah – buahan tersebut diperam dengan memberikan gas etilen agar cepat masak dan kemudian di perdagangkan.
Sitokinin. Sitokinin adalah hormon yang berperan dalam pembelahan sel ( sitokinesis). Fungsi sitokinin adalah: 1. merangsang pembentukan akar dan batang serta pembentukan cabang akar dan batang dengan menghambat dominasi apikal, 2. mengatur pertumbuhan daun dan pucuk, 3. memperbesar daun muda, 4. mengatur pembentukan bunga dan buah, dan 5. menghambat proses penuaan dengan cara merangsang proses serta transportasi garam – garam mineral dan asam amino ke daun.
Senyawa sitokinin pertama kali ditemukan pada tanaman tembakau yang disebut kinetin. Senyawa ini pada tanaman tembakau dibentuk pada bagian akar dan di transportasikan ke seluruh bagian sel. Senyawa sitokinin juga terdapat pada tanaman jagung yang disebut zeatin.
Asam absisat(ABA). Asam absisat merupakan senyawa inhibitor ( penghambat) yang bekerja antagonis ( berlawanan ) dengan auksin dan giberelin. Asam absisat berperan dalam proses penuaan dan gugurnya daun. Hormon ini berfungsi untuk mempertahankan tumbuhan dari tekanan lingkungan yang buruk, misalnya kekurangan air, dengan cara dormansi( tidur). Kekurangan air akan menyebabkan peningkatan kadar hormon di sel penutup stomata. Akibatnya, stomata akan tertutup dan transpirasi berkurang sehingga keseimbangan air dapat dijaga.
Kalin. Kalin merupakan hormon yang berperan dalam proses organogenesis tumbuhan.berdasarkan organ yang di bentuk,maka kalau di kelompokkan sebagai berikut:
1.                    rhizokalin, yaitu hormon yang mempengaruhi pembentukan akar.
2.                    Kaulokalin, yaitu hormon yang mempengaruhi pembentukan batang
3.                    filokalin, yaitu hormon yang mempengaruhi pembentukan daun
4.                    antokalin, yaitu hormon yang mempengaruhi pembentukan bunga
            asam traumalin. Asam traumalin merupakan hormon yang berperan dalam proses regenerasi sel apabila tumbuhan mengalami perusakan jaringan atau terluka. Jaringan akan membentuk kalus (jaringan yang belum terdiferensiasi) pada jaringan yang rusak atau terluka.
            Selain hormon vitamin juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. contoh vitamin adalah riboflavin(vitamin B12),asam askkorbat(vitamin C),tiamin(vitamin B1), piridoksin(vitamin B6), dan asam nikotinat.vitamin berpern dalam pembentukan hormon dan berfungsi sebagai kofaktor(komponen nonproton untuk mengaktifkan enzim).


            -faktor eksternal
            faktor eksternal atau faktor lingkungan meliputi pengaruh iklim,tanah, dan biota tempat tumbuhan berada. Kondisi ini akan mempengaruhi tumbuhan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Faktor internal dan eksternal saling mempengaruhi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan adalah temperatur, cahaya,air,pH,oksigen,dan nutrisi.
            Temperatur. Temperatur sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Temperatur akan mempengaruhi proses fotosintesis,respirasi, dan transpirasi. Temperatur yang tinggi akan mempengaruhi kandungan air pada jaringan tumbuhan. Strategi tumbuhan dalam menghadapi temperatur yang tinggi adlah dengan meningkatkan proses transpirasi (penguapan air yang umumnya melalui daun).
            Temperatur yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tingkat tinggi berkisar antara 0'C hingga 45'C. Di antara kisaran tersebut, temperatur untuk pertumbuhan dan perkembangan setiap jenis tumbuhan berbeda-beda. Contohnya, berbagai kultivar gandum (triticum vulgare) dapat tumbuh dalam kisaran temperatur mendekati 0-40'C. Namun,pertumbuhanya akan optimal pada kisaran temperatur 20'C-25'C. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung (zea mays) berkisar antara 30'C-35'C, tetapi jagung tidak dapat tumbuh pada temperatur di bawah 12'C-15'C. 
            Sebenarnya , temperatur optimum pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan berkaitan dengan asal wilayah jenis tumbuhan tersebut. Tumbuhan yang berasal dari wilayah tropis memerlukan temperatur yang relatif lebih tinggi di bandingkan prtumbuhan yang berasal dari daerah sub tropis atau kutub.
            Cahaya matahari. Cahaya matahari sangat mempengaruhitumbuhan yang berdaun hijau karena cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis pertumbuhan. Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang di hasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
            Cahaya matahari juga mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Tumbuhan yang tumbuh di tempat yang gelap akan tumbuh lebih cepat, namun dengan kondisi pucat, kurus dan daunnya tidak berkembang(etiulasi). Keadaan ini terjadi akibat tidak adanya cahaya sehingga dapat memaksimalkan fungsi auksin untuk pemanjangan sel-sel tumbuhan. Sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh di tempat yang terang menyebabkan tumbuhan tumbuh lebih lambat dengan kondisi yang reatif pendek, daun berkembang baik, dan berwarna hijau. Hal ini di karenakan oleh pengaruh auksin di hambat oleh cahaya matahari.
            Respon tumbuhan pada metode penyinaran cahaya matahai di sebut fotoperiodisme. di daerah beriklim sedang yang mengalami 4 musim, periode penyinaran akan bervariasi  pada setiap musim. Berdasarkan respon tumbuhan terhadap periode penyinaran, tumbuhan di kelompokkan menjadi tumbuhan berhari pendek,tumbuhan berhari panjang,dan tumbuhan berhari netral.


Sumber : Biologi jilid 2 untuk SMU kelas 2
Penerbit : Erlangga
Pengarang: Syalfinaf Manaf, MS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar